Tampilkan postingan dengan label Nouvelle. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nouvelle. Tampilkan semua postingan
Senin, 19 April 2010
In:
Nouvelle
Di persimpangan jalan, tampak
sebuah halte bus yang sepertinya baru saja diperbaharui. Terlihat dari pondasi
yang sudah kokoh dan cat yang tidak lagi kusam. Setelah halte selesai
direnovasi, banyak orang berdatangan lagi. Kini halte sudah lebih baik dari
sebelumnya. Keadaan halte yang membaik seperti mendeskripsikan keadaan hati
dari seorang gadis. Walaupun tidak seutuhnya dapat kembali seperti semula.
Setidaknya hati gadis itu sedikit demi sedikit dapat menerima apa yang terjadi.
Seperti halnya halte yang direnovasi, pasti tidak semuanya baru. Masih ada
bagian lama dari halte yang tidak direnovasi. Namun bagian-bagian lama tersebut
tidak terlihat karena dapat ditutupi.
Ia kembali ke
halte yang dulu ia datangi biasanya. Semenjak halte direnovasi ia tidak pernah
memunculkan batang hidungnya lagi. Tetapi gadis itu kembali sekarang. Seperti
kebanyakan orang yang berada di halte
yaitu menunggu. Entah menunggu apa atau siapa. setiap orang mempunyai alasannya
masing-masing. Ada yang datang dan pergi dari halte, selalu bergantian seperti
itu. Gadis itu masih duduk termenung di sudut halte, yang merupakan tempat
favoritnya. Sambil memperhatikan jalan dan sering kali menengadahkan kepalanya
ketika bus lewat. Tidak ada sosok yang ia cari,
sesekali ia menghela napas panjang. Siang ini panas begitu terik, ia
menyapu keringatnya yang mengucur dari keningnya. Ia tidak tahu apa yang ia
rasakan sekarang. Hanya menunggu yang ia tahu.
Tanpa ia
sadari sebuah bus berhenti tepat di depan pandangannya. Ketika pintu bus itu
terbuka, ia melihat sosok pria yang selama ini ia nantikan dengan penuh
pengharapan dan perasaan yang mendalam. Sosok pria itupun meninggalkan bangku kemudi setirnyanya
dan menghampiri gadis yang berdiri terpaku melihat kearahnya. Semua penumpang
dan orang yang berada di halte melihat kearah mereka sambil bertanya-tanya
dalam hati mereka. Pria dan gadis itu tidak menyadari akan hal itu. Bulir-bulir
air mata jatuh tanpa disadari gadis itu. Pria itu mengusap air mata yag jatuh
di pipi gadis itu dengan kedua tangannya yang hangat. Dan pria itu berkata
“maafkan aku”. Gadis itu hanya mengangguk, tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya
bisa memaafkan dan menerima kenyataan. Karena sesungguhnya ia masih menyayangi
dan mencintai pria itu. Walaupun pria itu sudah membuat dirinya kecewa dan
menunggu terlalu lama.
Kini gadis itu akan menunggu di halte penantian
lagi sedangkan pria itu harus pergi menjalani kehidupannya dengan sebuah janji
dan komitmen yang telah ia ucapkan kepada gadis itu. Semoga ia dapat menepati
janji-janjinya dan tidak mengulangi kesalahan yang sama ataupun yang berbeda,
gadis itu membatin. Semua hal maupun peristiwa yang terjadi mereka jadikan
sebuah pelajaran yang berharga dan merupakan proses pendewasaan diri bagi
kedua-duanya. Tidak ada yang perlu disesalkan dan ditangisi lagi. Petiklah
hikmahnya dari kesalahan dan kebaikan yang telah diperbuat. Hanya itu yang dapat dilakukan gadis itu sekarang.
Written by Laras Cahya Ramadhanti
Label: Love Story Nouvelle
Jumat, 12 Maret 2010
In:
Nouvelle
Bagaikan Sebuah Halte
Hari demi hari pun terus berlalu, begitu cepat bulan berganti. Rotasi dan revolusi begitu cepat bagaikan gasing yang berputar. Tak terasa kini telah berganti tahun. Setiap aktivitas berlalu begitu sangat monoton. Zaman sudah berubah tapi kehidupan ini seperti jalan di tempat.
Begitu banyak kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya pada pagi hari. Tidak ada henti-hentinya kendaraan memadati disetiap ruas jalan. Sebuah halte bus pun dipadati oleh banyak orang. Terlihat seorang gadis duduk termenung disalah satu sisi tempat duduk halte. Ia begitu tampak lesu di pagi hari yang cerah ini. Entah apa yang dipikirkannya sampai membuat mood-nya down. Semua orang yang berada di halte terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing. Tidak ada satu orang pun yang menyadari bahwa ada seorang gadis yang telah meneteskan air mata.
Keesokkan harinya, ia menunggu di halte yang sama dan duduk di tempat yang sama seperti kemarin. Setiap hari gadis itu selalu menunggu di halte. Agar ia tidak merasa kesepian, ia mendengarkan musik dari mp3 kesayangannya. Walaupun begitu didalam hatinya ada perasaan kesepian dan lelah yang sangat mendalam. Setiap hari ia habiskan untuk menunggu. Seperti sebuah halte yang merupakan tempat untuk menunggu bagi para penumpang angkutan umum. Ada saatnya halte itu ramai dan ada saatnya juga sepi.
Terus menunggu dan menanti. Mungkin bagi sebagian orang, hal tersebut sangat membosankan dan melelahkan. Tapi ia tetap melakukannya demi mendapatkan kepastian. Seperti halte yang makin lama makin bobrok hanya tinggal menunggu waktu untuk direnovasi ulang. Begitu juga dengan hatinya yang semakin lelah. Sampai kapan ia akan terus-menerus untuk menunggu sesuatu yang tidak pasti batinnya. Seiring berjalannya waktu gadis itu tidak pernah ada di halte tersebut. Ia sudah memutuskan untuk tidak seperti halte.
Created by Laras Cahya Ramadhanti
Label: Love Story Nouvelle
Langganan:
Postingan (Atom)